Nasi Timlo dan Sekelumit Asas Praduga Tak Bersalahnya

Praduga tak bersalah atau dalam bahasa arabnya “Su’udzon”.

Sebuah asas pemikiran atau perasaan berburuk sangka yang harus kita hindari sejauh mungkin. Lawan dari su’udzon adalah husnudzon. Sebagai manusia yang baik sepatutnya kita berbaik sangka terlebih dahulu bukan malah berburuk sangka. Bisa dibayangkan kan apa yang akan terjadi jika libatkan perasaan berburuk sangka terlebih dahulu?

Perasaan ini menimpaku tepatnya dua bulan yang lalu ketika aku berkunjung di Surakarta di hari kedua.

Pagi menjelma dan aku mempersiapkan hariku dengan bangun pagi lebih awal. Demi menyaksikan kereta api jurusan Surakarta – Wonosobo melintas di jalanan Slamet Riyadi.

20180310_081219
Kereta Jurusan Surakarta – Wonosobo Melintas di Jalan Raya Slamet Riyadi
20180310_081221
Gerbong Kereta Jurusan Surakarta – Wonosobo Melintasi Jalan Slamet Riyadi

“Tooottttt…Toootttt” suara sirine itu begitu keras menggaung di pusat kota.

Aku bergegas mengabadikan gambar kereta itu yang lewat di pinggir jalan Slamet Riyadi.

Norak!

Oke, ku akui aku memang norak saat itu. Karena aku begitu penasaran dengan fungsi rel kereta yang masih tertanam sepanjang jalan Slamet Riyadi. Kata warga lokal, rel itu masih digunakan perlintasan kereta api jurusan Surakarta – Wonosobo.

“Wow..kereta itu melintas di hadapanku, yeay”, aku berteriak kegirangan dalam hati.

Akhirnya aku bisa menyaksikan sendiri kereta itu melintas di hadapanku. Rasanya seperti berada di luar negeri. Hehehe

Satu keinginan sudah terpenuhi, keinginan selanjutnya adalah…

“Pak, kalau di Surakarta tempat wisatanya apa aja ya selain kraton?”, tanyaku kepada salah satu tukang ojek online

“Hmm apa ya paling ke Karanganyar mbak”, balasnya

“Duh itu mah sekalian main besok, hahaha”, balasku tanpa basa basi

“Oh iya..cobain makan di selat viens mbak, disana banyak masakan Solo. Mampir aja untuk makan siang”, sarannya sedikit merajuk

“Ehm iya boleh deh nanti saya mampir kesana pak, terima kasih”, balas singkatku

Obrolan tadi merupakan obrolan penutup dari bapak ojek online yang baru ku kenal tadi malam. Perjalanan seorang diri bukan berarti ga ada teman. Kesempatan ini yang aku manfaatkan untuk sekedar ngobrol dengan warga lokal agar banyak informasi dan pengetahuan yang ku dapatkan.

Cuaca kota Surakarta saat itu cukup terik. Bagi aku, yang terbiasa tinggal di kota dingin, suhu 27o C adalah suhu yang cukup terik. Alhamdulillah siang itu diiringi mendung yang perlahan menghiasi langit kota Surakarta.

Waktu menunjukkan pukul 11 dan aku harus cepat-cepat menuju tempat makan sesuai yang direkomendasikan tukang ojek online tadi.

FYI, ojek online di kota ini sudah cukup banyak namun sayangnya untuk order di tempat-tempat umum seperti stasiun, bandara dan terminal penumpang harus berjalan sedikit menjauhi area, kurang lebih 500 meter. Hal ini dilakukan agar kerusuhan tidak kembali terjadi. “Lagi-lagi, ini adalah masalah rezeki siapa yang mengatur, kita manusia patutnya berusaha. Berusaha untuk tetap sportif dan mau mencari ide-ide baru dalam hal teknologi”

Sampai di tempat makan ini, aku cukup heran, tempat memang tidak terlalu besar, tapi ramenya luar biasa. Apa aja menu yang ditawarkan? Apakah selat viens rasanya seenak yang dibayangkan?

Sesampainya di meja kasir, ternyata sistem pemesanan dan pembayaran sama seperti ketika makan di KFC. Bedanya kalau makan disini sistemnya pesan dan bayar baru makanan diantarkan. Menu yang ditawarkan ternyata cukup beragam, tidak hanya selat aja.

Selat adalah steak khas Solo yang katanya memiliki rasa yang khas, tidak seperti steak pada umumnya. Soal hidangan disajikan seperti steak, terdapat kentang, kacang polong dan wortel disiram kuah kental berwarna coklat dan rasanya sedikit manis.

“Duh ko buatku ga menarik ya, ini mah bisa makan di Bandung. Makan apa ya?”, sembari bingung memilih menu yang cocok

Akhirnya pilihanku jatuh ke Nasi Timlo.

 

Makanan ini sebenarnya mengingatkanku pada sebuah grup music dari sebuah ajang pencarian bakat yang berasal dari kota Solo. BTW, gimana ya kabar anggota grup music tersebut? Lama ga mendengar kabarnya.

Selain teringat dengan grup music tersebut, nasi Timlo adalah makanan yang asing bagiku, itu mengapa aku ingin mencicipi makanan tersebut.

Menunggu makanan yang dipesan ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesaat setelah seorang pramusaji meletakkan makanan dihadapanku tanpa sepatah kata pun. Setelah menunggu beberapa saat

“Mas’e opo ga salah ngewenehi panganan ya? Kan aku pesen Timlo dudu soto. (Translate : Mas apa ga salah kasih makanan pesananku ya? Kan aku pesen Timlo bukan soto),” batinku terus bergumam

Daripada terjadi kesalah pahaman aku tetap menunggu makanan tersebut sampai ada yang mengambilnya. Setelah menunggu agak lama takut makanan tersebut dingin, tetapi tetap saja tidak ada yang berani mengambilnya. Maka ku putuskan untuk memberanikan diri menanyakan dan mengetik NASI TIMLO ke mbah google.

Taraaaa…

20180310_113936
Nasi Timlo Solo

Ternyata mas pramusajinya benar dan aku yang oon.

“Aarghh salahkan aku salahkan aku kanda. Timlo ini mirip seperti Sop dan Soto”, sembari mengambil sendok.

Kembali aku melontarkan prasangka burukku terhadap makanan ini (ini jangan dicontoh ya gaes) kemudian bergumam, “Ahh masakan jawa tengah apalagi golongan Solo dan Jogja kan manis-manis, ini pasti rasanya manis. Yasudah kumakan saja, lagipula manis, pedas atau asin tak jadi masalah yang penting halal dan perutku kenyang”, sembari bergumam aku menyodorkan sendok ke mulutku

“Sluurrpp”,

“Hmm iki enak rasane, bedo karo sing tak bayangno, enak tenan tur rasane gurih lan seger. Kuah yo bening. (translate : hmm ini enak rasanya, beda sama yang ku bayangkan, enak banget terus rasanya gurih dan seger. Kuahnya juga bening)”, rasa takjub terus menghiasi lidahku yang terbiasa dengan prasangkan bahwa makanan ala Jawa Tengahan itu selalu manis.

Maklumin ya, karena aku dilahirkan dan dibesarkan di Jawa TImur, masakan yang notabene memiliki rasa masakan yang asin dan pedas. Berbeda jauh dengan Jogja.

Cerita singkat 11 tahun yang lalu, menginjakkan kaki di kota pelajar dan saat itu pula aku harus beradaptasi dengan segala suasana termasuk makanan di Jogja. “Ko masakan manis kabeh sih? Sayur sop ae manis. Doh iki piye? (translate : ko semua masakan manis semua sih? Sayur sop aja manis. Duh gimana ini?”

Hal tersebut adalah masalah yang baru buatku, ya karena belum terbiasa dan harus beradaptasi lagi dengan segala isinya di kota baru. Namun, lama kelamaan hal tersebut menjadi kebiasaan yang baru dan telah menyatu dengan diri.

Menceritakan tentang bentuk nasi timlo, adalah sesuatu yang enggak tabu sih. Karena dalam penyajiannya yang mirip dengan soto dan sop ternyata masih ada ciri khas yang berbeda, nasi ini berisi nasi, bihun, telor rebus, sosis solo.

Yap, sudah bisa ditangkap letak perbedaannya?

Ialah sosis solo.

Bentuknya seperti risole tanpa tepung panir yang berisi daging ayam dan dilapisi kulit lumpia di luarnya. Enak..namanya juga makanan.

Sosis Solo
Sosis Solo (Sumber : http://www.viva.co.id)

Sosis solo hanya dijumpai di Solo saja. Kalau ditanya kenapa namanya sosis? Mungkin karena dilapisi oleh selubung kulit lumpia, layaknya sebuah sosis yang dilapisi selubung edible dan berisi daging. Sosis solo begitu tradisional cara pengolahan, berbeda dengan sosis. Solo karena dibuat di kota Solo dan berasal dari Solo.

Sekian, cerita prasangka burukku tetapi membawa berkah. Prasangka-prasangkaku jangan pernah ditiru ya. Karena nyatanya itu semua tidak benar. Hahaha

Salam pejalan

 

Advertisements

Kesederhanaan Sebuah Dendang Kerinduan di Surakarta

Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik. Oh senangnya aku senang sekali…

Sepenggal lirik tersebut merupakan pemacu semangatku untuk menjelaah seluruh kota yang ada di seluruh penjuru dunia.

Setiap kota punya ceritanya masing-masing. Mulai dari special, berkesan, biasa aja, hingga menyedihkan, bahkan memilukan..ya berbagai rasa pasti pernah kita dapatkan ketika kita berkunjung ke suatu kota. Yang jelas setiap orang punya cerita yang berbeda. Itu mengapa Allah menuliskan kisah perjalanan seseorang berbeda-beda agar dari berbagai cerita dan pengalaman yang didapatkan dapat dijadikan sebuah pelajaran.

Surakarta, kotanya pak Jokowi. Sebelum kota ini menjadi terkenal di eranya, aku sudah mengetahui kota ini sebagai kota singgah. Perjalanan darat yang sering ku tempuh sejak 28 tahun membuat kota ini masuk jajaran kota singgahku.

Kunjungan tepat di 2 bulan yang lalu tujuannya ingin menghadiri pernikahan seorang teman. Ya meskipun teman beberapa kali bertemu. Hahaha..tak apa lah sekalian pergi menjelajah dunia luar, luar Bandung.

Oh ya jadi ngalor ngidul kan, hahaha..

Jalanan solo terbilang ramai. Banyak toko, tempat makan, tempat nongkrong dan tempat perbelanjaan di sekitar hotel yang ku singgahi. Kala itu, tiba di Solo saat sore hari, matahari tentunya sedang mempersiapkan dirinya menuju singgasananya.

Aku? Masih berkutat di kamar hotel untuk membereskan barang bawaanku yang sebentar lagi akan memenuhi ruangan.

“Heuh dasar wanita super ribet apalagi kalau mau kondangan”, celetukku yang tiada jeda

Sembari menikmati nyamannya nuansa kamar hotel ditemani beberapa program acara TV. Aku menunggu malam, menunggu malam? iya menunggu malam demi menuntaskan ke kepoan kulinernya.

Kepo demi kepo ku lalui. Aku masih galau memutuskan, “Mau makan apa malam hari ini? sate atau tongseng kambing? Yuuh no more goat meat, Di!”

“Ahaa..angkringan, pasti sekitar sini ada angkringan. Makan angkringan ahh..kau tahu betapa aku merindukan suasana angkringan ditemani sate keong dan segelas teh hangat sembari menikmati sejuknya angin malam” seakan diri terbawa pada memori di kota Yogya

“Eh..iya ini kan di Solo, hahaha..yawis cuss ndang metu selak mati keluwen aku. Hahaha.. (translate keburu mati kelaparan aku)”, semakin menjadi-jadi obrolan pada perut ini.

Angkringan ternyata tak jauh dari hotel tempatku menginap, segera aku mengambil posisi dan…

“Pak teh anget setunggal nggih (translate : pak teh anget satu ya)”, suaraku tak tertahankan

Mata terus berpendar mencari lauk atau jajanan yang siap untuk disantap…

“Bu..kulo bade dhahar laukipun bihun kale telor nggih (translate : bu saya mau makan lauknya bihun dan telor, ya)”, ternyata sudah tak terhakankan lagi.

Segera ku santap hidangan yang telah tersajikan tanpa basa basi. Tentunya tak lupa berdo’a sebelum makan, agar rezeki ini berkah bagiku.

20180309_200853
Kesederhanaan dalam Bersantap Malam di Angkringan

Suasana angkringan yang ku rindukan. Hidangan tak berbeda jauh di 6 tahun silam, sementara aku tetap bisa menikmati sambil ditemani suasana malam kota Surakarta.

Yang membuatku heran, mengapa tak banyak wanita yang rela duduk dan menyantap makanan di bangku angkringan? Apakah hal tersebut menjadi tabu bagi seorang wanita?

Bagiku, jika untuk sekedar mengisi perut yang kelaparan, mengapa harus menjadi tabu?

“Ahh tabu enyahlah kau untuk urusan perut. Kesederhanaan menjadi hal yang lumrah dan mengena. Masa bodoh apakah makanan itu bersih atau tidak, steril atau tidak, soal itu urusan yang kesekian lah. Asal kenyang, murah dan perut ga bawel.” Acuhku pada hal tabu.

Bagi-bagi teman-teman yang sering melihat postingan di media sosialku nampaknya kalian berpikiran bahwa, “Dian kalau makan di tempat makan yang kekinian atau minimal kafe lah.”

“Eittsss..Sorry, I have to said, it was wrong. Aku bisa ko makan di tempat mana saja, makan apa aja asal bukan daging kambing, makanan yang dilarang di dalam Al Qur’an dan yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu. Makanan-makanan yang diposting adalah makanan khas suatu daerah. Jadi, tak salah kan jika aku harus mempostingnya? Ini juga untuk mengenalkan teman-teman agar menambah khazanah dalam hal kuliner daerah.”

Kenyang sudah, saatnya ku kembali ke hotel untuk beristirahat menapaki hari esok dan jalan-jalan (lagi?).

Sekembalinya ke hotel, secara tak sengaja aku melihat segerombolan anak muda menghiasi barisan dinding di jalanan kota dengan gambar graffiti yang ciamik.

Ga mau donk kehilangan momennya, semua ku abadikan dalam kamera.

20180309_203846
Suasana Malam Hari di Jalan Slamet Riyadi
20180309_204302
Grafiti di Jalan Slamet Riyadi
20180309_204518
Bu Susi dalam Seni Grafiti di Jalan Slamet Riyadi

PS : maaf gambar ga terlihat jelas karena minimnya cahaya di sekitar.

Creativity is never die: Bukan Hanya Sebatas Angan

Kreativitas memang tiada batasnya. Slogan inilah yang memikat para pekerja industry creative untuk terus mengasah potensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Tak jarang karya mereka sudah melanglang buana dan dikenal hingga ke penjuru dunia. Sabang sampai merauke, Amerika, Asia, Eropa dan Australia telah mengenal karya dari tangan-tangan kreatif anak bangsa. Dukungan tersebut ternyata tak lepas dari perkembangan pesat teknologi informasi.

Di era saat ini, pesatnya perkembangan teknologi dapat menimbulkan dua celah, positif dan negative. Positifnya, informasi dapat diketahui hingga ke seluruh penjuru dunia. Negatifnya, jika kita tidak mampu memilih atau selektif dalam pencarian informasi tersebut akan menjadi boomerang bagi kita sendiri. Hal ini pun berlaku bagi pekerja industry kreatif dalam melakukan usahanya. Mereka dan kita tentunya harus selektif dalam memilih wadah yang tepat untuk mempromosikan karya kreatifnya.

Adanya sebuah situs e-commerce yang siap menampung produk bagi pegiat industry kreatif lokal ini merupakan bentuk sebuah kepedulian dan kemudahan dalam mendukung pekerja industry kreatif untuk terus berkarya. Peran media social sebenarnya sudah cukup membantu dalam menyediakan dan menyampaikan sebuah informasi hanya saja masih kurang aman dan terbilang acak.

Qlapa 1
Situs Rumahnya Handmade Lokal

Terbentuknya situs e-commerce tersebut seperti menciptakan angin segar bagi pegiat industry kreatif lokal, karena produk mereka bisa dikenal di seluruh penjuru dunia hanya dengan klik pada smartphone atau mouse pada PC. Konsumen hanya tinggal duduk manis memilih produk yang diinginkan dan tak perlu repot berkunjung ke lapak untuk membeli atau sekedar bertanya kepada para produsennya.

Produk handmade yang dijual di situs ini bisa dibilang pusatnya produk handmade pilihan yang terakurasi dan banyak macamnya. Umumnya produk yang ada di situs ini banyak menjual produk yang digunakan untuk souvenir, kado, koleksi, lifestyle hingga perabot untuk kebutuhan sehari-hari. Di situs ini juga terdapat fitur jaminan uang kembali jika barang rusak atau batal. Barang-barang yang dijual merupakan hasil pekerjaan tangan-tangan lembut para pengrajin lokal yang dikerjakan secara manual, meskipun dikerjakan dengan manual namun kualitas dijaga ketat agar terjaga mutunya.

Jika konsumen ingin menanyakan info lebih lanjut tentang barang yang ingin dipesan juga dapat didiskusikan lebih lanjut kepada para pengrajin. Foto-foto produk ditampilkan dan dikemas menarik agar meningkatkan daya minat konsumen. Harga yang ditawarkan juga cukup bersahabat dan sesuai dengan kualitasnya, hal tersebut menjadikan nilai tambah tersendiri bagi situs ini.

qlapa 3
Macam Produk yang ditawarkan untuk Kado Istimewa

Bingung memilih inspirasi kado pernikahan atau ulang tahun bagi orang tersayang?

Tenang, di situs ini tersedia pula fitur yang menampilkan inspirasi kado pernikahan atau kado ulang tahun agar memudahkan anda dalam mencari produk yang sesuai untuk dijadikan kado bagi orang tersayang. Tampilan ini juga dilengkapi fitur range harga yang diinginkan.

Qlapa 4
Contoh Transaksi yang diinginkan

Apakah anda sudah menentukan keputusan produk mana yang akan dibeli? Anda tinggal mendaftarkan data diri melalui menu pendaftaran akun dan isi form yang tersedia, jangan lupa masukkan alamat pengiriman, setelah itu data anda tersimpan dengan baik dan aman. Selanjutnya klik order, masuk ke dalam keranjang belanja. Dari halaman tersebut anda dapat mengetahui jumlah peminat produk ini serta stok produk tersebut. Langkah selanjutnya masuk ke menu pembayaran, terdapat beberapa menu yang ditawarkan yaitu melalui ATM, kartu kredit dan melalui indomaret. Pengiriman kurir yang ditawarkan juga ada beberapa macam (tergantung dari lapak penjual).

Produk handmade lokal kualitas internasional sudah didapatkan sesuai deskripsi yang tertera di kolom deskripsi dan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun hanya dengan satu genggaman.

Qlapa 7
Contoh Keranjang Pembelanjaan

Dengan membeli produk handmade lokal di situs ini, berarti anda ikut membantu membangun perekonomian Negara Indonesia, memupuk rasa nasionalitas sebagai warga Negara Indonesia dan membantu menuntaskan angan yang bukan lagi sebatas angan bagi para pegiat industri kreatif lokal.

Pengalaman Semalam bersama Twin Star Hotel Airy dengan kocek 30ribu Rupiah

10 Maret 2018 merupakan waktu pengembaraan kami di kota Surakarta untuk menghadiri acara pernikahan teman kami di Karanganyar. Jarak yang terbilang lumayan jauh jika harus ditempuh langsung pulang pergi Jakarta Karanganyar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menginap sebentar sambil beristirahat di Solo semalam saja.

Berhubung kala itu, WA story saya ramai membahas tentang promo Airy menginap dengan harga 30ribu, kami sepakat mencari hotel airy sekitar stasiun Balapan. Upaya kami searching melalui airy apps akhirnya membuahkan hasil, karena searching hotel Solo di weekend membuat kami cukup pusing. Maklum saja, Solo merupakan kota wisata terhitz di Jawa setelah Jogja.

Kepusingan kami tak cukup sampai situ saja setelah kami berhasil memesan, kami diharuskan menunggu waktu agar kami bisa check in lebih awal. Kami baru saja tiba dari Jakarta pukul 5 pagi. Ya masih shubuh dan matahari belum menampakkan sinarnya. Kami berusaha menunggu dengan waktu yang tidak sebentar sementara menunggu kami terus menghibur diri kami dengan fasilitas Wi-Fi hotel yang lumayan cepat, hahaha. Sembari menahan kantuk, untungnya staff hotel ramah dan paham dengan keadaan diri kami yang tengah lelah karena perjalanan beratus-ratus kilometer.

Satu jam kemudian staff hotel memanggil kami untuk serah terima kunci kamar. Yeay akhirnya kami bisa masuk kamar. Memasuki kamar momen yang ditunggu-tunggu adalah merebahkan diri ke kasur. Eitss big no. Saya sebagai sosok yang perfeksionis (eh ga ko cuma agak cerewet kalau soal kenyamanan) terlebih dahulu memeriksa dan merasakan suasana kamar yang saya pesan. Mulai dari kamar mandi, AC, tempat tidur, meja, cermin, dan segala pernak pernik kamar. Saya cukup merasa nyaman untuk tidur disini. Akhirnya saya memutuskan untuk mandi dan kemudian lanjut tidur sebentar hingga siang hari.

6-687
Suasana Kamar Hotel

 

759748_14102714120022970911.jpg
Toilet Kamar Hotel

Jam makan siang tiba, kami tentunya ingin merasakan masakan yang tidak dijumpai di kota lain. Kami memutuskan untuk makan di Selat Viens tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Lokasi hotel kami tidak terlalu jauh dari tempat tongkrongan cah gaul Solo. Menikmati Timlo yang legend membuat makan siang kami terasa nikmat. Tak lama setelah menikmati makanan khas Solo kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena sebentar lagi hujan turun. Benar saja setibanya di hotel hujan turun dengan deras. Saya yang menikmati kesyahduan sore di kamar akhirnya menolak diet dan memesan sebuah makanan di kafe hotel. Hahaha dasar wanita ya ga bisa nahan lapar apalagi cuaca saat itu dingin. Saya memesan dan makan di kafe hotel yang begitu cozy. Makin lahap saja makanku ini

Suara notifikasi HP berdering

“Gue habis liat lu makan di kafe. Katanya tadi kenyang?”, tukas temanku

“Tetiba lapar bro gara-gara hujan”, balasku sambil memegang sendok dan memasukkan mie ke dalam mulut

“Sruuup” begitu suara mie yang masuk ke mulutku

“Katanya diet”, balas temanku yang menyebalkan

“Hahaha iya khilap bro. Udah terlanjur lah makanannya masuk ke mulut.”, balasku dengan kata-kata menyebalkan pula

“Yauda habisin lah ya jangan pake alasan lagi kalau gue ajak makan ronde ketiga, hahaha”, balasnya dengan kata mengejek

“Apaa ada babak ketiga lagi?”, tukasku

“Iye, met gagal diet ye. Sono habisin jangan kekenyangan ya dan jangan sampai mubazir tuh makanan. Jangan lupa entar malem”, balasnya dengan ramah

“Ihhh nyebelin banget awas ya loe. But thanks buat pengertiannya. Hahaha thank you bro.”, balasku

Semangkok mie habis ku lahap. Aku kembali ke kamar dengan kondisi perut kenyang.

“Saatnya bobo sore”, sapaanku kepada kasur hotel

Malam harinya kami bertiga melanjutkan rencana kami untuk mencari makan malam di kota Solo dan mencari hal-hal yang unik. Sekembalinya dari perjalanan iseng kami, tentunya berada di hotel adalah hal yang terbaik karena esok kami harus check out lebih awal karena rencana kami akan berangkat lebih pagi dan langsung kembali ke kota tempat kami mencari nafkah.

Pagi harinya kami harus berkemas lebih awal dan menuju ke kafe untuk sarapan. Sayangnya, masakan belum siap. Dilandasi dengan rasa lapar tapi harus mengejar waktu kami memutuskan ke resepsionis untuk check out dan melanjutkan perjalanan ke Karanganyar.

Terima kasih Airy untuk keramah tamahan, kenyamanannya dan promonya 🙂

Blue Tie-Dye with Indigo (a Natural Colour)

Halo gaes, salam tulis menulis

Menorehkan bait yang sekian lama tak tersentuh akhirnya hari ini berkesempatan untuk menorehkan kembali bait dan sajak ilmu.

Laman cerita menjelaskan mengenai kisah perjalanan ketika berkunjung ke suatu tempat, namun hari ini laman ini akan menceritakan tentang goresan bait tentang makna sebuah perjalanan yang didapat melalui hasil keingin tahuan penulis mengenai teknik celup atau yang biasa dikenal Tie-Dye menggunakan pewarna alami (Tie-Dye with natural colour).

Awal cerita setelah mencari tahu tentang teknik mewarnai yang sudah mulai jarang terendus dan didapati di Jawa. Saya memposting hal tersebut di laman sosial media, sumber saya dapati melalui sebuah laman catatan perjalanan yang saya ikuti.

Ternyata hal tersebut mengundang salah satu temanku bercerita dan berbagi pengalamannya kepadaku. Singkat cerita akhirnya dia mengenalkan seorang seniman muda asal kota pelajar untuk menjawab rasa penasaranku.

Pertengahan Maret menjadi awal perjumpaan saya dengan seniman ini. Namanya Mas Ipul Bachrie. Dia adalah seniman muda celup asal kota pelajar yang sudah mendalami profesi “Tie Dye pewarna alami” kurang lebih dua tahun lamanya.

Dia bercerita banyak mengenai profesi yang ia geluti. Sampai pada akhirnya tiba saya menceritakan maksud dan tujuan saya menemui seniman tersebut.

Sudah bisa tertebak apa yang terlintas di pikiranku. Saya begitu mengagumi karya biru yang dihasilkan dari pewarna alam tanaman Indigofera. Jika teman-teman menebak warna yang dihasilkan pewarna alam umumnya warna hijau, merah, kuning, coklat. Biru? Sudah tentu dihasilkan dari bahan pewarna sintesis. Tapi, saat ini saya akan membantah pernyataan tersebut melalui tulisan saya kali ini.

Setelah penelusuran melalui mbah Google, warna biru alami bisa dihasilkan dari tanaman yang bernama Indigofera. Bagi pemerhati fashion, warna biru yang dihasilkan dari tanaman indigo memiliki warna biru yang khas. Selain warnanya yang tidak terlalu mencolok, pewarna alami disinyalir lebih ramah lingkungan (Ya iyalah namanya juga berasal dari alam pastinya juga akan kembali ke alam) dan lebih hemat bahan pencelupan. Nah untuk pembahasan yang ini kita geser dulu ya supaya penjelasannya lebih runtut.

Pengertian Tie-Dye

Teknik yang digunakan pewarnaan umumnya menggunakan teknik celup. Teknik ini ternyata beragam. Namun, salah satu teknik celup yang akan dibahas adalah teknik celup ikat atau yang dikenal dengan istilah Tie-Dye.

Tie-dye merupakan teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan teknik tertentu sebelum dilakukan pencelupan, sehingga menghasilkan corak, warna dan motif yang khas. Teknik ini sebenarnya merupakan teknik warisan dari kaum hippies yang sudah ada sejak tahun 1940-an.

Di Indonesia ternyata juga dijumpai teknik yang serupa. Jika di Jawa dikenal dengan istilah Jumputan. Di Banjarmasin dikenal dengan Sasirangan, dan di Palembang dikenal dengan Pelangi. Meskipun berbeda-beda istilah namun pengertian yang dimaksud adalah sama yaitu teknik ikat celup. Warna dan motif yang dihasilkan antar satu bahan dengan bahan lain tentu berbeda. Jadi, itu kenapa hasilnya terkesan eksklusif.

Setelah mengenal istilah Tie-Dye, teman-teman akan saya ajak untuk mengenal berbagai macam teknik pewarnai alami. Yuk mari

screenshot_20180313-221234.png
Salah satu bentuk Karya Tie-Dye warna kuning dan coklat

Penjelasan Teknik Pewarna Alami

Pewarna alam didapatkan dari ekstrak tumbuh-tumbuhan atau hewan.

Ekstrak tumbuh-tumbuhan didapat dari buah, daun, batang, kulit batang, bunga, kulit buah dan akar. Tanaman yang berkambium hampir bisa dipastikan memiliki zat warna. Namun, kadarnya berbeda-beda. Kadar inilah yang mempengaruhi kelayakan apakah tumbuhan ini bisa digunakan sebagai bahan pewarna atau tidak.

Hewan didapatkan dari zat yang terkandung pada hewan tersebut. Contohnya, gurita yang memiliki tinta yang disemburkan ketika melindungi diri dari musuh.

Ketersediaan bahan baku juga patut menentukan kriteria kelayakan sebagai pewarna alami atau tidak karena jika relative mudah dibudidayakan dan banyak dijumpai di suatu wilayah maka potensi untuk digunakan sebagai pewarna semakin besar.

Sekilas sumber bahan pewarna alam sudah dijabarkan. Tanaman apa saja yang bisa digunakan untuk pewarna kain?

  1. Indigofera, diambil daunnya kemudian diekstrak menjadi pasta atau serbuk
  2. Pohon Jolawe, diambil kulit buahnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  3. Pohon Tingi, diambil kulit batangnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  4. Pohon Tegeran, diambil kulit batangnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  5. Pohon Secang, diambil kulit batangnya terutama serut merah pada kulit batangnya, kemudian diekstrak melalui perebusan
  6. Pohon Mahoni, diambil kulit batangnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  7. Pohon Jati, diambil kulit batangnya kemudian diekstrak melalui perebusan atau penumbukan
  8. Kunyit, diambil rimpang akarnya kemudian diekstrak melalui pemarutan halus kemudian direbus
  9. Manggis, diambil kulit buahnya kemudian diekstrak melalui perebusan atau penumbukan
  10. Pohon Pinang, diambil biji buahnya kemudian diekstrak melalui tumbukan halus bijinya
  11. Bunga Safflower, diambil bunganya kemudian diekstrak melalui perebusan
  12. Suji / Pandan, diambil daunnya kemudian diekstrak melalui penumbukan halus dan didiamkan selama semalam
  13. Pohon Angsana, diambil kayu dan daunnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  14. Kesumba, diambil buah dan biji buahnya kemudian diekstrak melalui penumbukan. Tanaman ini juga digunakan sebagai bahan dasar pewarna lipstik
  15. Pohon Mengkudu, diambil akarnya kemudian diekstrak melalui penumbukan halus
  16. Pohon Gambir, diambil getahnya dari remasan daun dan rantingnya kemudian diekstrak melalui perebusan
  17. Pohon Ketapang, diambil daun dan kulit kayunya kemudian diekstrak melalui proses perebusan
  18. Pohon Alpukat, diambil kulit buahnya kemudian diekstrak melalui perebusan

Ternyata banyak ya tanaman yang bisa dijadikan sebagai pewarna alami. Nah, untuk warna yang dihasilkan dari beberapa tanaman apa aja sih?

  1. Warna biru dihasilkan dari daun Indigofera/Tarum/Nilam/Tom
  2. Warna kuning dihasilkan dari kayu Tegeran, Kunyit, bunga Safflower
  3. Warna merah dihasilkan dari akar mengkudu, biji buah pinang, biji kesumba, kayu angsana, getah Gambir, daun jati muda
  4. Warna ungu kemerahan dihasilkan dari kulit manggis
  5. Warna coklat kekuningan dihasilkan dari daun Angsana dan kulit buah alpukat
  6. Warna merah muda/pink dihasilkan dari kayu secang
  7. Warna coklat kehijauan dihasilkan dari kulit buah jolawe
  8. Warna coklat kemerahan dihasilkan dari kulit kayu tingi
  9. Warna coklat kehitaman dihasilkan dari daun ketapang
  10. Warna merah bata dihasilkan dari kulit kayu mahoni
  11. Warna hijau dihasilkan dari daun pandan suji

Oke, penjelasan tentang pewarnaan alami sudah dijabarkan beruntut sekarang saatnya mengenal lebih dekat mengenai pewarna alami biru yang didapatkan dari tanaman Indigofera.

Biru melalui Indigofera

Dari semua tanaman yang dipaparkan, terdapat satu tanaman yang mendapatkan perlakuan khusus jika ingin mendapatkan hasil warnanya, bisa dibilang lumayan deh manjanya. Butuh proses peracikan dengan tambahan beberapa zat lain. Indigofera tinctoria merupakan salah satu spesies Indigo yang sering digunakan untuk pewarnaan alami pada kain.

Orang Jawa mengenalnya dengan nama Nilo/ Nila/ Nilam. Orang Sunda lebih akrab menyebutnya dengan nama Tarum. Rata-rata warna indigo yang beredar di pasaran sudah dalam bentuk pasta/serbuk. Jadi, ini kenapa harus menggunakan beberapa zat tambahan lain supaya bisa mendapatkan hasil warna birunya.

Sejarah Indigo

  • Di beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatera Utara, Indigofera dianggap sebagai komoditi penting layaknya emas. Karena, pewarna Indigo digunakan sebagai pewarna biru pada kain ulos.
  • Pada masa colonial Belanda, indigo disebut juga emas biru karena merupakan komoditi penting di negeri jajahan selain rempah-rempah.
  • Pada masa colonial Belanda disebut juga sebagai “keringat biru” karena produksinya dilakukan dengan Sistem tanam paksa.

Mengenal Indigo melalui ciri fisik

  • Merupakan tanaman semak-semak/perdu, yang hidupnya menahun
  • Batang Mengkayu (lignosus) bentuk daun majemuk menyirip, dengan jumlah anak daunnya berjumlah gasal.
  • Sebagai tumbuhan berbiji terbelah (dicotyl) mempunyai akar tunggang bercabang (ramosus). Akarnya tumbuh lurus ke bawah dan terdapat bintil akar pada serabut. Akarnya yang terbentuk akibat infeksi bakteri pengikat nitrogen (rhizobia) yang bersimbiosis secara mutualistic.
  • Bunga indigo tergolong bunga majemuk yang tersusun dalam suatu tandan dengan tangkai keluar dari ketiak daun
  • Sebagai anggota Leguminese, buahnya bertipe polong dan berbentuk pita.
  • Akarnya secara alami bisa mengikat nitrogen di dalam tanah.

Klasifikasi Indigofera

Indigofera_tinctoria1
Indigofera tinctoria
Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Eudicots
(unranked): Rosids
Order: Fabales
Family: Fabaceae
Genus: Indigofera
Species: I. tinctoria

sumber : wikipedia

Identifikasi Indigofera sebagai penghasil zat warna

  • Dari sekian banyak jenis Indigofera, tidak semua menghasilkan zat warna biru (Indigo). Warna biru indigo hanya didapat dari jenis Indigofera yang daunnya memproduksi senyawa glukosida yang disebut “indikan”
  • Untuk mengetahui ada atau tidaknya zat indikan pada suatu spesies Indigofera cukup mudah, yaitu dengan teknik perendaman
  • Caranya : ambil segenggam daun Indigofera lalu masukkan ke dalam gelas dengan ditekan hingga terisi separuh gelas. Tuangkan air bersih hingga hampir penuh kemudian biarkan hingga 12 jam.
  • Indikator keberadaan adanya indikan ditandai dengan berubahnya warna air rendaman daun menjadi hijau tua, permukaan atas rendaman berbuih dan berbau khas tajam.

Untuk mendapatkan warna biru dari tanaman indigo, ternyata tidak bisa didapatkan langsung melalui proses perebusan atau penggerusan tanaman. Ada dua cara yang bisa dilakukan yaitu menjadikan ekstrak indigo dalam bentuk serbuk atau pasta.

Keduanya punya keunggulan dan kekurangan masing-masing. Hal ini bergantung dari seniman yang ingin menggunakan.

Seniman yang saya temui lebih memilih pasta untuk menjadikan racikan dalam pewarnanya. Karena harga pasta indigo lebih murah dibanding serbuk. Kekurangannya, jika menggunakan pasta, sang seniman harus meraciknya terlebih dahulu tidak seperti serbuk yang bisa langsung digunakan untuk pewarnaan.

Di bawah ini saya akan berbagi bagaimana cara meracik pasta indigo agar bisa digunakan sebagai pewarna alami pada tie dye.

Ada 2 cara untuk meracik pasta indigo, antara lain :

  1. Menggunakan tambahan bahan kimia, antara lain
  • Soda abu → berfungsi untuk melarutkan pasta indigo dengan air
  • Hydro → berfungsi memisahkan oksigen dalam larutan indigo, sehingga warna (biru) bisa meresap masuk pada benang dan pori kain.
  1. Menggunakan tambahan bahan berupa glukosa

Glukosa berfungsi sebagai reductor untuk mengurangi kadar alkali (kapur) dalam pasta indigo, sehingga zat warna indigo bisa leluasa meresap masuk ke pori kain dan benang.

4 jenis glukosa (alami), dengan urutan tingkatan kadar glukosa :

  • Gula aren → paling tinggi kadar glukosa, sebanding dengan harganya
  • Air fermentasi tape → kadar glukosa di bawah gula aren, susah dicari kecuali memproduksi larutan ini
  • Tetes tebu → kadar glukosa lebih rendah dibandingkan larutan fermentasi tape. Relative baik jika digunakan rujukan, harga murah, mudah didapat dan tinggal tuang
  • Gula jawa → kadar glukosa paling rendah, harga lebih murah dan bisa digunakan sebagai reductor.

Menurut penulis, reduktor glukosa lebih menguntungkan dibanding reduktor kimia. Secara ekonomis lebih menguntungkan dan dari segi lingkungan lebih ramah dibanding reduktor kimia. Namun, kekurangannya prosesnya lebih lama dibanding reduktor kimia.

Nah cukup sekian kisah mengenai Blue Tie-Dye yang bisa saya paparkan. Rencana tulisan ini akan saya jadikan buku agar teman-teman mudah mengenal dan berkreasi dengan teknik celup pewarna alami. Doakan ya teman-teman semoga buku nya cepat terbit. See you again…

screenshot_20180329-161346.png
Pengeringan Kain sesudah dicelup menggunakan Indigofera
screenshot_20180329-161353.png
Blue Tie-Dye menggunakan racikan Glukosa sebagai reduktor

 

 

Gunung Puntang : Kesaksian Kisah Kejayaan Radio Malabar

Bandung merupakan kota yang dikelilingi oleh jajaran gunung-gunung. Bandung sendiri berasal dari kata Bendung yang artinya membendung. Dari sumber yang didapatkan ada sekitar 700 gunung yang ada di kota Bandung Raya. Namun disini penulis hanya mengisahkan beberapa gunung yang memiliki syarat akan unsur kental sejarahnya.

Jajaran gunung dari utara dan selatan rasanya banyak waktu yang harus disisihkan untuk menjelajahi ratusan gunung di kota ini. Tak hanya Parahyangan namun ternyata ada gunung yang memiliki histori tinggi yang terletak di sebelah selatan kota Bandung. Gunung Puntang, seakan kisah histori di Gunung ini kental dengan nama berdirinya radio pertama kali di Bandung yang didirikan oleh zaman Belanda pada tahun 1923.

Kami mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi situs peninggalan bersejarah Radio Malabar di penghujung tahun 2017. Awalnya tak ada niat, karena niat kami sebenarnya ingin ke Ciwidey malah di(sesat)kan ke arah Pangalengan, yang menurut arah peta lebih dekat jika harus melewati Banjaran. Situs Radio Malabar memang lebih dekat atau lebih enak jika melewati daerah Banjaran.

Daerah Bandung Selatan sebenarnya banyak pesona wisata yang perlu digali hanya saja promosi dan maintenance tempat wisata yang menjadi PR bagi pemerintah. Seperti halnya, situs bersejarah Radio Malabar yang tepat berada di Gunung Puntang.

Radio Malabar Bandung yang dulunya berada di ketinggian 1890 mdpl kisahnya kini hanya tersisa puing-puing reruntuhannya. Diletakkan di area kawasan gunung Puntang karena dari kawasan ini sinyal terbaik terletak di daerah ini. Radio Malabar merupakan radio nirkabel pertama di dunia yang mampu membentang jarak ribuan kilometer untuk terhubung dan berkomunikasi dari Indonesia ke Belanda.

Namun sayangnya pada saat perang Dunia II sekutu kalah akhirnya belanda membawa seluruh peralatan radio ini untuk pindah ke kota dan meninggalkan sebuah bangunannya saja. Kemudian bangunan ini digunakan jepang sebagai gudang peralatan. Pada saat kemerdekaan berkumandang Jepang meninggalkan bangunan ini. Akihrnya masyarakat setempat meruntuhkan sebagian bangunan ini dan mengambilnya. Pada tahun 1997 oleh pemerintah Bandung mengisyaratkan untuk menjadi situs cagar budaya.

20171125_13531520171125_135301

Saat ini, tempat ini hanya menjadi sisa puing-puing kejayaan di masa lalu. Sayangnya juga tempat ini kurang terurus sehingga beberapa tempat seperti musholla nampak kotor. Mendengar dari simpang siur siapa yang berhak merawat dan mengelola tempat ini saya jadi tertegun. Padahal, tempat ini syarat makna dengan sejarah masa lampau apalagi tentang radio Malabar yang merupakan radio pertama yang berdiri pada masa colonial serta lahirnya teknologi gelombang radio gelombang pendek dan menghubungkan dua Negara dari dua benua.

20171125_124534
Puing-puing Sisa Bangunan Stasiun Radio Malabar

Sekilas pandang radio Malabar menurut beberapa sumber.

Gunung puntang yang masih merupakan jajaran gunung Malabar merupakan tempat berdirinya stasiun radio Malabar, didirikan oleh pemerintah colonial Belanda pada tanggal 5 Mei 1923.  Pemancar stasiun radio Malabar didirikan oleh dr de Groot pada Mei 1923 di zaman Hindia Belanda. Stasiun ini memiliki antena pemancar yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio sepanjang 2 km, membentang di antara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian hampir 500 meter. Antena pemancar tersebut digunakan sebagai komunikasi langsung dengan pihak belanda yang berjarak sekitar 12 ribu km. letaknya yang dikelilingi pohon pinus dan berada sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut membuat bangunan tersebut menjadi tempat yang strategis untuk melakukan komunikasi pada zamannya.

Kata “Halo Bandung” merupakan kalimat yang berasal dari siaran radio Malabar dijadikan lirik lagu oleh oleh ismail marzuki.

Stasiun ini merupakan stasiun murni pemancar sedangkan penerimanya ada di Padalarang dan Rancaekek. Karena menggunakan teknologi yang boros energy maka pemerintah Belanda membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di daerah Dago, PLTU Dayeuhkolot dan PLTA di Pangalengan lengkap dengan jaringan distribusinya hanya untuk memenuhi kebutuhan pemancar radio tersebut. Pemancar ini menggunakan teknologi kuno, yaitu busur listrik (poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20-7.5 km.

Menurut sejarah kuncen Bandung, Haryanto Kunto, dahulu gedung pemancar ini Nampak cantik dan megah dengan perpaduan struktur kayu dan tembok. Saat ini yang tersisa adalah bangunan kolam cinta. Dinamakan kolam cinta karena bangunan berbentuk hati.

Jika ingin melihat sisa antenna pemancar masih bisa dijumpai dengan mendaki ke atas tepatnya ke lereng gunung puntang.

Jika anda ingin berkunjung ke sisa puing kejayaan Radio Malabar, lokasinya berada di area bumi perkemahan Gunung Puntang Kec. Banjaran, Kab. Bandung, dengan koordinat global positioning system (GPS) S007.111433 – E107. 602583 dengan ketinggian 1.290 mdpl

20171125_125927
Yang tersisa hanyalah puing Kolam Cinta

 

Sumber : gusper / kompasiana / infobdg

20171125_135157-e1518901459563.jpg

Belitung was Our Another Sweet Escape

Belitung atau yang dikenal sebagai negeri Laskar Pelangi mendadak naik daun setelah film Laskar Pelangi dinobatkan film terlaris di tahun 2009. Kisahnya yang menceritakan tentang  kehidupan penulis semasa SD dimana fasilitas pendidikan pada tahun 1980an masih sulit didapatkan kecuali jika anak-anak ini adalah anak orang terpandang di kota tersebut. Plot lokasi film ini berada di sebuah kota kecil di Belitung Timur atau yang dikenal dengan kota Gantong. Belitung tidak sebatas dikenal sebagai kisah heroic nya di film laskar pelangi tetapi keindahan panoramanya juga tak kalah dengan Indonesia bagian lain. Pada tahun lalu saya dan teman saya berkesempatan berlibur ke pulau ini. Ada sekelumit cerita yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman untuk mengunjungi pulau ini sekaligus menggencarkan promosi pariwisata Indonesia dan Belitung.

 

Perjalanan memakan waktu 50 menit dari Jakarta, dari atas kita sebenarnya sudah bisa melihat keindahan panorama pulau ini. Saya memang cenderung menjadi sosok yang tak banyak bicara jika mengunjungi suatu tempat yang baru ditambah saya harus memanjatkan do’a pada saat itu supaya pendaratan berjalan mulus.

“Hei daritadi aku melihatmu hanya terbengong tanpa terucap kata satupun kenapa?”, Tanya temanku

“Cantik ya” hanya kalimat itu yang kuucapkan pada seorang temanku yang sekaligus menjadi partnerku di perjalanan kali ini.

“Hahaha iya” sahutnya

“Cantik pulau ini tadi aku ngeliat sekilas dari atas, pantai dan lautnya cantik sepertinya bakal beda dengan pantai yang sering ku jejaki. Makasih uda diajak kesini, semenjak kemunculan film laskar pelangi di bioskop seketika itu aku sudah ngefans sama pulau ini dan berharap bisa kesini. Alhamdulillah sekarang sudah terlaksana. Okey let’s we get started”, balasku kepadanya.

Sesaat itu kami mulai petualangan kami di kota ini dengan menjalankan misi sesuai itinerary yang dibuat sehari sebelum perjalanan. Hal yang mengherankan ketika tiba di kota ini adalah jalanan di pulau ini begitu mulus tanpa cacat. Seketika saya membayangkan andai saja jalanan di kota Bandung juga seperti ini mungkin aku tak perlu mengeluarkan dana untuk servis perbaikan stang dan ring motor tiap 3 bulan sekali. Hahaha..

Hujan tiba-tiba turun, kami berhenti sebentar untuk sholat kemudian beristirahat sebentar menyusun jadwal yang harus diubah sementara karena kondisi cuaca. Kami hanya bermodalkan GPS untuk mengelilingi Belitung barat hingga Belitung timur selama 3 hari. Belitung satu tahun yang lalu memang terbilang cukup sunyi, tak banyak suara klakson yang membisingkan jangankan suara klakson bising kendaraan saja masih dibilang cukup jarang.  Kalau boleh saya bilang, “it was such as the sweet escape from all routine”.

IMG_1224.JPG
Sunset di Tanjung Pendam

Senja di hari pertama kami habiskan di pantai tanjung pendam. Sunset menjadi petanda bahwa hari akan berganti menjadi malam. menjadi petanda juga bagi kami untuk sedikit mengurangi aktivitas kami untuk mempersiapkan aktivitas di keesokan harinya.

Aspal di Belitung yang begitu mulus membuat saya lupa diri. Bernyanyi ala kadarnya untuk mengganjal mata dan mengekspresikan raga karena pada akhirnya di momen yang tidak terduga bisa menjelajah ke negeri Laskar Pelangi. Sambil diiringi nyanyian serangga di petang hari membuat suara saya terdengar sayu-sayu.

Malam berganti kami menginap di sebuah cottage milik warga asli di Tanjung Kelayang. Kenalkan pemilik cottage ini bernama Andre. Disana kami banyak bercerita tentang Belitung kami banyak bercerita mengenai pengalaman kami masing-masing. Saya yang masih terbilang baru menjadi warga dadakan bandung menuturkan beberapa pengalaman selama tinggal di kota itu, tapi ternyata Andre ini lebih lama tinggal di Bandung. Hahaha benar saja dugaanku karena nomor ponselnya adalah nomor Jawa Barat, awalnya saya mengira dia bukan asli Belitung karena sepintas dari nomor ponselnya itu tetapi ternyata dia merupakan warga keturunan Belitung dan Sunda. Sekali lagi Indonesia ini kaya, kaya akan keberagamannya yang membuat saya kagum dan merasa memiliki persamaan dengan Andre ini karena sama-sama bernasib sebagai hasil peranakan dari beberapa suku yang berbeda.

Terlintas sebuah kalimat impian bagi pemuda ini yang merontokkan hati kami. Kalian ingin mendengar impian pemuda ini?

Impian seorang pemuda ini cukup simple namun saya yakin kalian pun akan terperangah jika mendengarnya. Impiannya adalah membangun desanya menjadi desa ekowisata bersama pemuda Belitung.

“Jika impian hanya sebatas angan jangan sebut aku Andre,” kalimat sombong dan semangatnya membuat obrolan kami pecah dan kami hanya saling tertawa satu sama lain.

Usaha yang ia lakukan untuk merajut mimpi-mimpi tersebut yaitu dengan merangkul para pemuda Belitung untuk mempromosikan pulau ini dengan media social yang ada dan membuat web khusus yang akan dijadikan sebagai promo pariwisata di Belitung. Sedikit demi sedikit progress nya mulai Nampak. Terakhir berkontak dengannya dia sudah mendirikan travel agency bersama teman-temannya sebagai tour guide untuk wisatawan lokal dan mancanegara yang akan berwisata ke Belitung. Klik lengkapnya silahkan mampir di website http://www.instagram.com/belitongtraveller ya 🙂

Belitong traveller
Travel Agency milik Andre dkk

Kalau kamu ke Belitung jangan lupa ya gunakan jasa agensi mereka. Dijamin liburan kamu akan berkesan dan tak terlupakan, bahkan kamu ga mau balik ke kota asalmu. Hahaha

Singkat cerita kami pun tersipu malu dengan pilihan kami berdua yaitu menjadi kacung di negeri sendiri. Ah bukan kami tapi aku. Karena partnerku ini adalah seorang aparatur sipil Negara bukan kacung, apalah saya yang hanya seorang kacung pada saat itu.

Pembicaraan pun beranjak serius tapi esensinya tetap ngobrol santai menikmati malam bersama angin pantai. Disini kami menemui fakta yang mencengangkan mengenai dunia social ekonomi warga pesisir Belitung

“Disini seafood itu mahal loh aneh kan? Tuturnya diantara nada serius dan becanda.

“Hah? Ko bisa mas kenapa gitu kan pulau ini dikelilingi laut harusnya lebih murah donk daripada di Bandung secara dapetinnya ga sesulit di Bandung yang harus ditempuh berkilo-kilo dan berjam-jam” sahutku

“Sistem rantai jual ke pihak pengepul yang membuat harganya melambung tinggi. Jadi gini, disini itu ada cold storage milik pengusaha cina yang siap menampung ikan jenis apa saja dari nelayan dan siap dihargai tinggi untuk diekspor ataupun dijual di sekitar Belitung sini. Pikir para nelayan daripada dibeli oleh tengkulak yang kadang dibeli murah mereka lebih memilih untuk menjual hasil tangkapannya ke perusahaan cold storage tersebut.” Penjelasan darinya

“Oh ya pantes aja dihargai mahal lah wong semua hasil tangkapan larinya ke perusahaan cold storage yang pastinya jika dijual lagi untuk dikonsumsi jadi mahal harganya.” Sahutku

Realita kehidupan memang akan selalu terkait kembali dengan yang namanya uang. Ya uang memang bisa money can buy everything but everything can’t buy with money.

Pagi menjelang saya sempatkan untuk mengelilingi Tanjung Kelayang. Sudah lama sekali tak menghirup udara pagi di tepian pantai. Bersyukur atas karunia pada hari itu. Kemudian tiba saatnya kami harus menuju pulau kecil nan eksotik yang berada di ujung Tanjung Kelayang. Kalian bisa melihat dari atas pesona Tanjung Kelayang dari puncak mercusuar yang berdiri tahun 1887. Kalian juga bisa sekaligus melihat panorama bawah laut setelah melihat panorama dari atas merucusuar. Pokoknya kalian akan merasakan the real holiday di pulau ini.

IMG_1236.JPG
Mercusuar Tanjung Kelayang dari jauh
IMG_1237
Jajaran batu granit menyusun keeksotikan pantai Belitung

IMG-20170913-WA0005[1]
Berkeliling Tanjung Kelayang ditemani oleh mas Andre (paling kanan), thank you for your hospitality 🙂
Tak jauh dari Tanjung Kelayang. Masihkah ingat dengan lokasi syuting laskar pelangi di sebuah pantai? Pantai Tanjung Tinggi. Kami juga sempatkan mampir di pantai ini. Pesona batu granit yang menjulang tinggi menjadi ciri khas pantai di kepulauan Bangka Belitung. Menandakan pulau ini kaya akan kandungan timahnya. Kami pun menghabiskan waktu senja di pantai ini sambil menikmati semburat oranye yang muncul ketika matahari mulai terbenam.

Senja petanda bahwa kami harus siap menyiapkan rencana hari esok karena esok adalah hari terakhir kami berada di pulau ini.

IMG_20160828_160644
Sunset di pantai Tanjung Tinggi

Hari terakhir mengantarkan kami pada acara yang ditunggu-tunggu yaitu silaturahmi ke kampong halaman Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal Ahok dan ke tempat dimana Ikal dan kawan-kawannya lahir dan dibesarkan di kampong ini.

Kampong Gantong berada di Belitung Timur kepulauan Bangka Belitung. Tak beda dengan suasana Belitung Barat kami melaju santai dengan motor kami membawa kami ke sebuah bangunan replica SD Muhammadiyah Gantong yang saat itu digunakan sebagai tempat syuting Laskar Pelangi. Bangunan hanya berdindingkan kayu dan beralaskan tanah membuat kami sedikit tertegun dan mensyukuri karunianya bahwa kami hidup di jaman yang modern dan digital. Tapi kami juga masih mengalami masa-masa menulis di papan tulis dengan kapur persis seperti yang ada di film ko. Hanya saja dinding kami telah sudah tembok bukan dari kayu.

Setelah itu kami harus berburu-buru ke destinasi selanjutnya yaitu rumah Andrea Hirata atau yang disebut dengan Museum Kata. Kami memang tidak masuk ke dalam karena jadwal kepulangan kami ke Jakarta juga tidak lama.

IMG_1341-1
Museum Kata Andrea Hirata

Akhir perjalanan kami mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya. Panjatan doa mengalir terus menerus supaya kami diberi rezeki yang cukup untuk berkeliling Indonesia dan Dunia agar bisa menginspirasi teman-teman semua. Bahwa Traveling itu tidak sekedar pamer kemudian mengunggahnya di social media. Traveling lebih dari sekedar itu, traveling adalah tentang perjalanan sebuah destinasi. So, what’s next destination?

Big thanks to :

Mas Andre dan warga pantai Tanjung Kelayang

Mengulik Kisah Lampau Pulau Galang

“Ayok besok bangun yang pagi ya tante, om, sama adek mau ajak ke pantai dan pulau Galang” ajakan tanteku sepulangnya kami dari menikmati mie tarempa.

“Tenang te aku ni bukan tipe mbangkong” sahutku “iya ga mbangkong ko kalo lagi traveling tapi mah, hahaha” celetukku dalam hati.

Sesampai rumah aku bergegas tidur supaya besok bisa bangun lebih awal.

Paginya dilalui seperti biasa perjalanan di Batam tak lepas dari suasana laut dan pastinya suhu yang luar biasa panasnya, hahaha. Perjalanan menuju pulau Galang memakan waktu sekitar 90 menit. Menyebrangi beberapa jembatan yang di bawahnya sebenarnya adalah laut. Dua kali merasakan rasanya naik tol laut sebelumnya pernah menyebrangi laut menggunakan jembatan dari Surabaya menuju Madura.

Atmosfer ketika memasuki pulau Galang mulai terasa. Sepi dan tak berpenghuni sehingga kesan angker yang mungkin dirasakan oleh para pelancong namun hal itu berbeda denganku. Aku hanya begitu penasaran dan mencoba merasakan atmosfir yang berbeda selama melakukan perjalanan mengunjungi tempat sejarah-sejarah tertentu. Atmosfir memilukan ketika berkunjung ke camp ini. Bagaimana tidak para pengungsi melakukan pelayaran selama berbulan-bulan di Laut Cina Selatan dalam keadaan yang jauh dari kata layak hidup. Entah berapa banyak pengungsi yang tak bisa bertahan hidup di lautan akibat mati kelaparan dan sakit. Mereka berlayar menggunakan perahu tongkang yang berisikan penuh para pengungsi bahkan sebenarnya perahu tersebut sudah melebihi kapasitasnya. Pada saat mereka mengungsi perahu yang sebenarnya hanya bermuat puluhan menjadi ribuan pengungsi asal Vietnam.

IMG-20170401-WA0012
Salah Satu Kapal yang digunakan para Pengungsi

 

 

Pulau ini dulunya merupakan bekas camp pengungsian warga Vietnam yang terpaksa harus mengungsi dan meninggalkan negaranya akibat perang saudara yang terjadi pada tahun 1975. Ada sekitar 250.000 jiwa yang tertampung di pulau seluas 80 ha. Banyaknya pengungsi asal Vietnam tersebut membuat PBB turun tangan dan menerjunkan tim UNHCR untuk berunding. Hasilnya para pengungsi Vietnam ditempatkan di sebuah pulau yang tak berpenghuni di kala itu yang bernama pulau Galang.

Dahulu area pengungsian ini dibuat eksklusif dengan penjagaan khusus bahkan tak sembarangan orang bisa berinteraksi disini, hal ini dikarenakan untuk meminimalisir potensi menularnya penyakit Vietnam rose, sejenis penyakit kelamin yang kala itu tengah melanda para pengungsi tersebut.

Jika kalian berkunjung ke camp ini kalian akan menjumpai berbagai fasilitas eksklusif yang dihuni selama 16 tahun sejak tahun 1975 hingga 1996. Fasilitas tersebut berupa rumah yang suasananya seperti perkampungan Vietnam jaman old, rumah sakit, tempat ibadah, penjara yang kesemuanya ditanggung oleh PBB.

IMG_20170326_104222
Bekas Rumah Pengungsi Vietnam
IMG-20170401-WA0017
Rumah Pengungsi Vietnam yang telah direnovasi
IMG-20170401-WA0016
Salah satu fasilitas untuk para pengungsi Vietnam

Oleh karenanya ketika pemerintah Indonesia meminta mereka untuk kembali ke negaranya mereka mengadakan protes cukup besar. Pada saat itu kapal yang digunakan para pengungsi sempat ditenggelamkan sebagai bentuk protes mereka. Namun saat ini perahu tersebut telah direnovasi dan dimusiumkan bersama dengan bangunan  di sekitar camp ini.

IMG_20170326_102736
Perahu yang pernah ditenggalamkan dan telah direnovasi

Banyak sekali kisah heroic dan memilukan di wilayah ini. Atmosfer tersebut akan kalian rasakan begitu memasuki camp ini ditambah terdapat monument kemanusiaan yang digambarkan sebagai seorang wanita yang tidak bisa melakukan apapun. Wanita ini bernama Tinh Han Loai, ia adalah salah seorang pengungsi yang meninggal karena bunuh diri, ia merasa malu dan kemudian stress akibat pemerkosaan yang menimpa dirinya. Dirinya diperkosa oleh beberapa laki-laki sesama pengungsi.

Patung-Kemanusiaan-Kampung-Vietnam
Patung Kemanusiaan untuk mengenang Tinh Han Loai. Sumber : http://www.tempatwisataid.com

Di camp ini juga ada beberapa macam tempat ibadah, karena pengungsi Vietnam tidak hanya memeluk satu agama mereka juga ada yang memeluk agama Buddha, sebagian Kristen, katolik bahkan muslim. Jadi tak heran jika anda akan menjumpai berbagai macam tempat ibadah di tempat ini. Kemarin saya sempatkan mampir ke vihara Quan Am Tu untuk mengambil gambar di spot tersebut.

 

IMG_20170326_105908
Gerbang Masuk Vihara

 

IMG_20170326_110326
Vihara Quan Am Tu
IMG_20170326_111032
Patung Dewi Quan Im di Vihara Quan Am Tu

Kini setelah 21 tahun berlalu pulau Galang dikembalikan sepenuhnya kepada pemerintahan Indonesia di bawah otoritas pemerintahan Batam. Perawatan dan pembenahan kawasan ini dilakukan sebagai upaya pelestarian sejarah dan memori di masa lampau yang sangat mengharukan, baik dalam sejarah Vietnam, Indonesia bahkan dunia.

Saat ini pengunjung tidak hanya dari Indonesia tapi terkadang warga negara dari Vietnam berkunjung kesini untuk mengunjungi sanak saudara atau kerabat yang dikuburkan di areal pemakaman atau untuk mengenang memori yang pernah ditinggalkan di tempat ini.

 

Areal Pemakaman
Areal Pemakaman Pengungsi Vietnam Sumber : http://www.batasnegeri.com

Rasanya tak lengkap jika mengunjungi Batam hanya sekedar berfoto-foto di pantai atau jembatan Barelang. Mampirlah ke pulau ini. Feel the sensation. Sensasi mengulik mengulik kisah lampau pulau ini. Jika kalian tergolong orang yang penakut, kalian bisa datang di pagi atau siang harinya. Nantinya kalian akan disambut dengan monyet-monyet lucu yang berkeliaran dan menjadi penunggu pulau ini. Mereka ramah dan selalu mendekat dengan pengunjung jika pengunjung memberikan sedikit makanan. Pulau ini tidak seseram yang dibayangkan hanya sunyi yang akan datang menyambut kalian dan beberapa cerita sedih yang akan membangkitkan rasa kemanusiaan anda.

IMG-20170401-WA0015
Monyet penghuni pulau Galang yang datang menyapa kami

you’re beautiful sunrise who’ve been i missed (KETIKA KENANGANMU MEMANGGIL KEMBALI)

 

Seorang teman mengisi instastory nya yang isinya kurang lebih membahas mengenai berdewasalah ketika anda belum menikah hingga sampai saat ini karena ketika menikah ada banyak sekali problematika yang siap hadir di dalam hidupmu bahkan kalimat “ngambeg” pasti sering dijumpai di setiap waktunya. Saya pun turut berkontribusi menyumbangkan komentar dan ide humor sebagai pemecah suasana. Mungkin karena kami senasib tetapi saya tidak ingin terlalu terbawa makna dalam kalimat-kalimat mengenai pernikahan.

“Kalau masih ngambeg ke laut aja berenang sama ikan sama nemo terus selfie deh bareng mereka dijamin ga ngambeg lagi”. Kemudian suasana pecah dan obrolan semakin ngelantur kesana kemari. Iya laut itu kenapa sih jadi tempat pembuangan terakhir bahkan pembuangan yang memang sifatnya hanya bercanda. Eitss jangan serius dulu di kalimat tersebut juga saya sisipi humor kekinian yaitu selfie dengan ikan-ikan dan nemo di laut. Asyik kan cara kekinian supaya ga galau lagi. Hehe.. tapi sekali lagi kenapa harus laut? Selfie dengan ikan dan nemo? Kenapa ga tenggelam aja di laut? Laut itu ga selalu ada istilah tenggelam tetapi ada istilah keindahan di dalamnya. Ya keindahan itu wajib disisipi supaya kalau galau bukan tenggelam atau menenggelamkan diri (bunuh diri) sebagai penyelesaian terakhir. Keindahan itu bisa menjadikan kenangan dan kerinduan tersendiri loh. Ga percaya? Yuk simak cerita Dian.

Sedikit cerita saya merupakan sarjana perikanan dimana setiap field trip selalu bermain-main dengan dunia perairan, biota air, tambak, muara, pantai dan laut. Seru kan jurusan gw? *nyombong dikit, hehehe* meskipun di pandang sebelah mata dan termasuk jurusan yang ga ngehitz (popular) tapi jurusan gw berperan penting dalam menjaga poros ketahanan pangan dan peningkatan taraf kehidupan bangsa Indonesia.

Mengingat laut seakan memanggil kenangan dan kerinduan dari hati saya untuk mengulasnya kembali, yaitu kenangan masa-masa kuliah dimana kami suka mbolang apalagi mbolangnya ke pantai. Masa itu membawa kembali ke 8 tahun yang lalu, tepat di tanggal 4-5 juli 2009 kami sebagai mahasiswa angkatan ke 3 mengadakan kunjungan lapangan ke daerah pantura untuk mengenal dunia perikanan lebih lanjut. Ya daerah pantura perikanan memang berkembang lebih pesat dibandingkan pantai selatan.

Singkat cerita perjalanan dimulai dari kampus di wilayah Yogyakarta kemudian mampir ke Pati dan Jepara, semua kegiatan perikanan dikenalkan mulai dari kegiatan budidaya, pasca penangkapan dan penanganan dan social ekonomi perikanan. Bau amis menyebar tetapi kami tetap antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut ya tentunya di masa-masa itu eksis juga hal terpenting sebagai penghias suasana. Hehe…

Senja pun tiba petanda kami harus melanjutkan agenda lainnya di sebuah mess yang berhadapan dengan laut dan di sebelahnya adalah dermaga pantai Kartini. Saya berpikir pasti ini akan menjadi hal terseru di dalam kisah perjalanan hidup saya untuk menikmati sunrise di belakang mess. Baiklah hari ini tidur cepat supaya momen ini ga akan terlewat. Esok harinya sebelum matahari terbit saya dan teman-teman sudah standby di ujung dermaga menunggu matahari menampakkan batangnya tak lupa kamera juga sudah disiapkan untuk mengabadikan momen tersebut. Benar saja setelah itu tak hentinya saya mengatakan cantik kepada salah satu ciptaan sang maha pencipta ini. Yes, you’re beautiful sunrise who’ve been I missed.

IMG_1263-02 (blog)
Menikmati Sunrise di Ujung Dermaga Pantai Utara Jawa

Sebelumnya kalian tau ga yang membuat saya bersyukur hingga menorehkan goresan di hari ini pada keindahan sunrise di dermaga tersebut? Karena letak dermaga ini tidak asing ketika kalian hendak menuju pulau Karimun Jawa. Dermaga ini merupakan satu-satunya dermaga untuk penyebrangan menuju pulau Karimun Jawa. Pulau Karimun Jawa merupakan salah satu penyokong industri pariwisata Indonesia yang terkenal akan keindahan bawah lautnya dan airnya yang jernih. Biota bawah laut terdiri dari ikan-ikan, ganggang laut dan terumbu karang. Ingat film finding nemo? Film ini mengangkat cerita tentang kehidupan bawah laut sehingga menjadikan nemo dan ikan-ikan lainnya banyak dikenal bagi manusia.

Ikan, nemo, sunrise di laut. Tiga kalimat tersebut seperti siratan dari maha daya atas kecanggihan impuls otak yang merindukan akan kekagumannya pada ciptaan sang penciptaNya. Bisa ditebak sepertinya memang maksud hati menulis kalimat pemecah suasana yang ujung-ujungnya tetep ngalor ngidul kesana kemari karena merindukan untuk melaut kembali. Ya Dian memang seperti itu, jika ada kalimat yang tak bisa tersampaikan secara lisan ia selalu menuliskan ke dalam sebuah kalimat yang mungkin akan dikaitkan dari cerita satu ke cerita lain.

PANDUAN PRAKTIS LIBURAN SERU MENUJU BANGKOK DAN SEKITARNYA

Pernah ga punya mimpi pengen jalan-jalan keluar negeri yang murah dan terjangkau tapi ga ribet dengan urus visa dll? Jelajah singkat ke Bangkok yuk 2-3 hari. Kenapa sih harus Bangkok? Sejumlah maskapai penerbangan banyak yang melayani penerbangan langsung dari Jakarta Bangkok pp selain itu Bangkok yang merupakan ibu kota Negara Thailand menawarkan keindahan arsitek pagoda. Bangkok juga merupakan salah satu destinasi backpacker traveler yang ingin sekedar menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke luar negeri dengan budget minimalis. Buat teman-teman pemula tentunya pasti masih kebingungan bagaimana untuk mempersiapkan liburan untuk pertama kalinya ke luar negeri. Nah berikut ini tipsnya.

Yang pertama karena negeri Thailand sudah berada di luar Indonesia pastinya kita membutuhkan dokumen persyaratan umum untuk keluar negeri, ya sebut saja paspor. Saya sarankan bahkan sebelum pemesanan tiket cek kembali masa berlaku paspor anda minimal 6 bulan dari masa berlaku berakhir namun jika belum memiliki paspor silahkan membuat terlebih dahulu di kantor imigrasi terdekat. Saat ini layanan perpanjangan dan pembuatan paspor sudah menggunakan sistem online dan anda tidak menunggu lama untuk pemanggilan cek kelengkapan dokumen.

http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa 

http://bandung.imigrasi.go.id/permohonan-antrian-paspor-online/ 

IMG_20160323_101329
Paspor Indonesia

Tips selanjutnya. Jika kalian hendak ke Bangkok dengan waktu yang minim saya sarankan menggunakan transportasi udara. Selain menghemat waktu jika dihitung-hitung biaya tiket pesawat juga hemat daripada lewat darat, kecuali jika anda mempunyai banyak waktu. Kendala bagi backpacker traveler yang minim budget adalah pada biaya transportasi tiket pesawat karena biaya ini biasanya memakan hampir 70% anggaran perjalanan. Tips nya supaya hemat, carilah tiket jauh-jauh hari maksimal 30 hari sebelum keberangkatan agar anda dapat mencari info tiket promo atau daftarkan email anda untuk mendapatkan newsletter dari maskapai terkait supaya anda mendapatkan notifikasi tentang tawaran tiket promo. Anda bisa mendaftarkan email anda melalui situs www.airasiago.co.id karena seperti yang kita ketahui maskapai air asia adalah salah satu maskapai yang sering mengadakan tiket promo selain itu di website tersebut juga tersedia paket biaya tiket pesawat dan penginapan terkadang juga airasia go mengadakan tour city di waktu-waktu tertentu jadi darisini kita bisa menghitung sekaligus anggaran pesawat dan penginapan sesuai budget kita.

laman airasiago
Laman AirAsiaGo

Tak lupa buatlah itinerary selama anda disana, karena darisini kita juga bisa menentukan penginapan terdekat, biaya transportasi dan harga tiket masuk ke lokasi tujuan, serta perhitungan waktu. Jika tiket pesawat, penginapan dan itenary sudah siap saatnya menunggu hari keberangkatan. Tak lupa juga tukarkan uang anda ke mata uang Thailand. 1 Baht (Rp 383,- tergantung dari kurs saat itu) saran saya untuk tidak menukarkan uang di moneychanger bandara karena nilai tukarnya cenderung rendah dan selama di Thailand bawalah uang baht secukupnya atau amannya tukarkan uang anda ke dolar amerika, karena moneychanger di Thailand masih jarang menerima penukaran rupiah dan nilai tukar rupiah lebih rendah jika dibandingkan dengan penukaran dari dolar ke baht.

Keberangkatan sengaja dilakukan di hari Jumat karena mengejar momen penting untuk berbelanja oleh-oleh di Chatuchak weekend market yang hanya dibuka di akhir pekan saja. Berikut ini itinerary selama di Bangkok yang bisa teman-teman gunakan saat berada di Bangkok

Hari pertama,

Untuk meringkas dan efisien waktu sebaiknya pesanlah tiket penerbangan dan penginapan di www.airasiago.co.id untuk penerbangan lakukan di penerbangan awal yaitu di pagi hari agar anda bisa melihat suguhan pesona sunrise selama perjalanan dan kesempatan untuk icip icip makanan khas Thailand di pagi dan siang hari. Untuk memilih penginapan carilah hotel yang letaknya dekat dengan lokasi wisata yang akan anda kunjungi serta carilah hotel yang letaknya strategis supaya bisa berhemat biaya transportasi. Kebetulan di Hotel Budacco yang terletak di daerah Pratunam menawarkan lokasi yang sangat strategis, harga bersahabat karena dengan budget biaya sekian anda sudah mendapatkan sarapan secara free, dan juga banyak tersedia penjual makanan di sekitar hotel.

Setibanya disana sebelum cek in hotel baiknya anda berkeliling di daerah Pratunam atau Siam untuk mencari makanan tradisional ala Thailand di daerah Pratunam Morning Market dan mengunjungi pusat perbelanjaan daerah Pratunam dan Siam. Tiba saatnya untuk cek in segeralah bergegas ke hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui https://www.airasiago.co.id/Bangkok-Hotels-Budacco.h3607591.Hotel-Information?chkin=20%2F10%2F2017&chkout=21%2F10%2F2017&rm1=a2&regionId=0&hwrqCacheKey=8253612f-c096-4a5d-9228-183e7da91848HWRQ1508483850894&vip=false&c=fd115947-d555-443a-9b66-1db9143973d6& 

budacco
Hotel Budacco (www.airasiago.co.id)

Setelah cek in destinasi pertama di hari pertama adalah Wat Arun atau yang biasa dikenal dengan Temple of The Dawn. Destinasi kedua yaitu menyebrang sungai Chao Phraya untuk menuju The Grand Palace yang merupakan istana kerajaan Thailand yang indah nan megah. Setelah dari Grand Palace perjalanan berlanjut ke Wat Phra Kaew yang lokasinya masih menjadi satu bagian dari The Grand Palace. Kemudian berlanjut ke Wat Pho karena lokasinya bersebelahan dengan istana. Wat Pho terkenal dengan patung Buddha berbaring yang sangat terkenal.

 

Screenshot_20171020-013314
Peta Lokasi The Grand Palace, Wat Arun, Wat Phra Kaew, Wat Pho (www.google.co.id)

Puas mengunjungi The Grand Palace selanjutnya menuju Wat Saket dan Golden Mountain karena disini anda bisa melihat Grand Palace dan kota Bangkok di sekitarnya dari ketinggian. Selain itu di Golden Mountain terdapat pagoda yang merupakan iconic Thailand.

images-1
Golden Mountain (www.google.co.id)

Malam mulai menyapa saatnya berganti ke destinasi selanjutnya yaitu Asiatique The Riverfront yang dikenal dengan Night Market of Bangkok yang sangat gemerlap. Perjalanan menuju Asiatique menggunakan BTS menuju Saphon Taksin BTS Station, kemudian turun ke dermaga di bawahnya dan naik shuttle boat menuju Asiatique The Riverfront.

images-2
Asiatique The Riverfront (www.google.co.id)

Hari kedua,

Saatnya berwisata ke ibu kota kerajaan kuno di Ayutthaya. Kota kuno nan eksotik merupakan kota yang telah dinobatkan oleh UNESCO sejak tahun 2000 menjadi world heritage rasanya wajib untuk dimasukkan ke dalam daftar trip selama di Thailand. Anda bisa mengikuti trip menuju Ayutthaya melalui www.airasiago.co.id/things-to-do/tur-ibu-kota-kuno-ayutthaya-dengan-pesiar-sungai-makan-siang.a187467. Yang dapat dipesan jauh hari. Jarak tempuh menuju Ayutthaya kurang lebih 80 km dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil. Ayutthaya didirikan tahun 1350 sebagai istana ibu kota Siam. Di Ayutthaya banyak terdapat kuil dan candi yang letaknya berdekatan.  Trip yang dipesan dari airasiago ini meliputi kunjungan ke beberapa spot highlight seperti seperti Wat Phra Mahathat terkenal akan spot kepala Buddha yang terperangkap ke dalam akar pohon. Istana Bang Pa-In yaitu istana bekas kediaman kerajaan Thailand selama musim panas. Wat Na Phra Men yang merupakan kuil bersejarah dari masa abad ke 15 dan dilanjutkan dengan makan siang prasmanan lezat di atas kapal di sepanjang sungai Chayo Praya. Ikut trip dengan airasiago menurut saya praktis karena anda tinggal duduk dan menikmati perjalanan dari Bangkok ke Ayutthaya pulang pergi.

Tur Ayutthaya
Halaman Penawaran Tur Kota Ayutthaya di AirAsiaGo

Sepulangnya dari Ayutthaya tidak ada salahnya menghabiskan malam di Chatuchak Weekend Market dan membeli oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat. Pasar ini hanya dibuka di hari Sabtu dan Minggu saja, jadi sayang jika dilewatkan ketika sedang berkunjung ke Bangkok. Banyak barang yang dijual disini mulai dari perabotan rumah tangga hingga peralatan pribadi. Menurut informasi yang saya dapatkan barang-barang yang dijual disini lebih murah jika dibandingkan di tempat perbelanjaan lain.

Chatuchak-Weekend-Market
Chatuchak Weekend Market (www.google.co.id)

Hari ketiga,

Destinasi di hari terakhir berkunjung ke Vimanmek Mansion, yaitu istana yang terbuat dari kayu jati dan kemudian dilanjut ke Ananta Samakhom. Sebelum menuju Vimanmek Mansion hendaknya cek out terlebih dahulu agar anda tidak dikenakan biaya tambahan karena terlambat cek out.

images-3
Vimanmek Mansion (www.google.co.id)
images-4
Ananta Samakhom (www.google.co.id)

Setelah mengunjungi Vimanmek Mansion dan Ananta Samakhom sempatkan mampir ke Khao San Road yang merupakan jalanan paling popular di Bangkok. Tibalah di penghujung jadwal saatnya kembali menuju Jakarta menggunakan maskapai AirAsia.

khao-san-road.jpg
Khao San Road (www.bangkok.com)

Dari itinerary yang ditawarkan apakah sudah mewakili kata puas akan penasaran keindahan kota Bangkok? Tenang masih banyak kesempatan jika anda ingin kembali ke kota ini caranya dengan selalu mengikuti informasi mengenai promo terbaru dari AirAsiaGo Indonesia melalui instagram @airasiagoid atau  Facebook AirAsiaGo Indonesia atau daftarkan email anda untuk mendapatkan newsletter dari AirAsiaGo Indonesia #AAGoMakeItReal